Kicauan burung mmecah pagi, ia brnyayi seolah berteriak berusaha
mmbangunkan orang2 yang sedang dibuai dan terbuai mimpi. Aku masih
terlelap dalam mimpi dan angan2, mnanti pertolongan tangan tuhan, ya
tuhan hanya tuhan yang mampu menciptakan pelangi dimalam hari, hanya
tuhan yang mampu mnciptakan fatamorgana indah jadi nyata. Ya bukan kamu,
kamu tak ada apa2nya dari pada apa yang tuhan berikan untukku. Tapi
mengapa duniaku begitu gelap saat kau tak mnyapa pagiku, mngpa nafasku
seolah brhenti saat kau marah padaku..
hadirmu yang sekejap menancapkan
tuah kesetiaan yang membirukan ruang pagiku. ini hari libur, tapi tidak
pernah ada kata berhenti untukku merindukanmu..
seperti barisan pagi kemarin, kini dan nanti, aku selalu suka caramu
mengucapkan “selamat pagi”
jangan pernah biarkan pagiku kosong, jangan pernah biarkan pagi membenci dan memusuhiku.
kepada pagi, kutimang mimpi. seindah indahnya, aku inginkan semesta bahagia menyelimuti kita..
Minggu, 28 April 2013
luka Memawar
aku tak kuasa berdusta untuk cinta
Seperti juga ketika bahasa dijajah makna
ketika mata dialihkan dari rupa
ketika segala indra dialihkan dari bumi
tubuhku tergasing seperti angin dilaut membadai
ruhku pun terasing dari padang hening
ketika rumput rumput dilanda sangsai
pantaikupun dijemput maut
seperti batas yang telah selesai
di ruang redup aku hidup
hanya pada pasir aku bertabir
aku hadir
tapi luka tak kunjung sirna
semakin berpihak melata tak terkira
seperti berjuta daun kirimkan perih
seperti nganga yang mengisi ruang dada
Lukaku semakin memawar bunda
seperti kerinduan putra yang tak pernah berjumpa..
tapi mata menemu..
rahasia dibatas jazirah
ada darah nista
juga asa
yang sia.. sia..
Seperti juga ketika bahasa dijajah makna
ketika mata dialihkan dari rupa
ketika segala indra dialihkan dari bumi
tubuhku tergasing seperti angin dilaut membadai
ruhku pun terasing dari padang hening
ketika rumput rumput dilanda sangsai
pantaikupun dijemput maut
seperti batas yang telah selesai
di ruang redup aku hidup
hanya pada pasir aku bertabir
aku hadir
tapi luka tak kunjung sirna
semakin berpihak melata tak terkira
seperti berjuta daun kirimkan perih
seperti nganga yang mengisi ruang dada
Lukaku semakin memawar bunda
seperti kerinduan putra yang tak pernah berjumpa..
tapi mata menemu..
rahasia dibatas jazirah
ada darah nista
juga asa
yang sia.. sia..
Langganan:
Postingan (Atom)